Ads

Ketika BEM Universitas Hanya Menjadi Dekorasi Birokrasi

 

Oleh: Muzakky Maulana Hidayat

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Jember (UIJ) seharusnya menjadi garda terdepan dalam membela mahasiswa. Organisasi ini lahir bukan sekadar untuk mengurus proposal kegiatan, membuat pamflet ucapan hari nasional, atau menjadi pelengkap struktur kelembagaan kampus. BEM lahir dari semangat perjuangan sebagai ruang mahasiswa menyampaikan kritik, mengawal kebijakan, dan memastikan suara mahasiswa tidak mati di bawah kenyamanan birokrasi.

Namun hari ini, wajah organisasi mahasiswa perlahan berubah. BEM tidak lagi tampak sebagai alat perjuangan, melainkan seperti dekorasi pesta pernikahan dipasang megah ketika acara berlangsung, terlihat ramai dan penuh warna, tetapi setelah resepsi selesai dan semua tamu pulang, dekorasi itu ditinggalkan tanpa makna. Indah dipandang, tetapi kosong fungsi.

Fenomena ini terasa nyata di kampus hijau. Dalam sejarah gerakan mahasiswa, Presiden Mahasiswa (Presma) selalu dipandang sebagai simbol keberanian intelektual sosok yang berdiri paling depan ketika mahasiswa gelisah dan kampus kehilangan arah. Namun hari ini, fungsi itu perlahan memudar. Kritik memang belum benar-benar hilang, tetapi sengaja di pelankan agar tidak mengganggu kenyamanan pihak tertentu.

Padahal jika melihat sejarahnya, BEM memiliki akar panjang sebagai organisasi perlawanan. Sejak dahulu mahasiswa dikenal sebagai agen perubahan yang aktif mengkritik kebijakan pemerintah, menyuarakan aspirasi rakyat, hingga menjadi kekuatan penting dalam Reformasi 1998 yang menjatuhkan rezim Soeharto. Bahkan ketika Orde Baru membungkam gerakan mahasiswa melalui kebijakan Kehidupan Kampus (NKK)/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) semangat kritis itu tetap hidup lewat diskusi, kajian, dan konsolidasi intelektual.

Artinya, sejarah BEM tidak pernah dibangun di atas kenyamanan. BEM lahir dari keberanian.

Namun ironisnya, di tengah sejarah panjang itu, Presma UIJ saat ini, Ahmad Khoriry, mulai di persepsikan bukan sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, melainkan sekadar wajah organisasi yang lebih sering muncul di pamflet dibanding di ruang konsolidasi mahasiswa. Kehadirannya terasa samar di tengah berbagai persoalan kampus. Forum-forum penting berjalan tanpa keterlibatan yang jelas. Diskusi mahasiswa kehilangan arah kepemimpinan. Bahkan ruang-ruang kritis yang semestinya menjadi habitat utama seorang Presma justru tampak asing baginya.

Ketidakhadiran dalam agenda nonton bareng film dokumenter Pesta Babi yang membahas konflik pembabatan lahan di Papua menjadi salah satu contoh kecilnya. Persoalannya bukan sekadar hadir atau tidak hadir, melainkan soal sensitivitas dan keberpihakan seorang pemimpin mahasiswa terhadap isu sosial dan kemanusiaan. Ketika forum seperti itu yang bahkan dihadiri mahasiswa dari luar UIJ tidak dianggap penting, mahasiswa mulai bertanya sebenarnya BEM UIJ sedang bergerak ke mana?

Atau jangan-jangan arah gerak organisasi hari ini memang bukan lagi perjuangan, melainkan pencitraan?

Sebab jika diperhatikan, yang paling aktif justru media sosial organisasi. Feed Instagram terlihat hidup. Pamflet bertebaran. Dokumentasi kegiatan selalu rapi. Wajah Presma tampil besar dengan pose formal dan senyum birokratis yang nyaris sempurna. Jika orang luar melihatnya tanpa memahami realitas kampus, mungkin mereka akan mengira UIJ memiliki gerakan mahasiswa paling progresif di Indonesia.

Padahal kenyataannya, mahasiswa justru kesulitan menemukan keberanian organisasi di lapangan.

Mahasiswa berharap ada konsolidasi gerakan, yang hadir justru desain pamflet dengan gradasi warna premium.

Mahasiswa menunggu sikap kritis, tetapi yang datang hanya caption penuh kata “sinergitas,” “kolaborasi,” dan “menjalin hubungan baik.”

Lama-lama, BEM terasa bukan lagi ruang perjuangan, melainkan agensi media kreatif kampus.

Ironisnya, ketika dimintai tanggapan oleh Lembaga Pers Mahasiswa, respons yang diberikan terasa begitu aman dan normatif ketika di hubungi selalu lama responya. Tidak ada sikap yang benar-benar menunjukkan keberanian intelektual seorang Presma. Semua jawaban terdengar rapi, sopan, dan steril seperti sambutan pembukaan seminar yang dibuat agar tidak menyinggung siapa pun.

Seolah kritik hari ini harus melewati sensor internal sebelum boleh disampaikan ke publik.

Padahal mahasiswa tidak membutuhkan pemimpin organisasi yang hanya pandai menjaga perasaan birokrasi. Mahasiswa membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk menyampaikan keresahan, meski berisiko dianggap tidak nyaman.

Sayangnya, budaya organisasi hari ini justru lebih sibuk menjaga stabilitas dibanding menjaga keberanian. Jabatan organisasi perlahan terasa bukan lagi ruang perjuangan, melainkan posisi aman yang dipertahankan dengan cara tetap tenang, tetap sopan, dan tetap tidak terlalu kritis. Akibatnya, kritik kehilangan tenaga bahkan sebelum sempat di ucapkan.

Forum perkumpulan ketua-ketua BEM fakultas yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi pun berjalan tanpa arah kolektif yang jelas. Tidak ada gerakan besar. Tidak ada gagasan bersama. Organisasi bergerak sendiri-sendiri seperti kelompok tugas kuliah yang kehilangan koordinator.

Mahasiswa akhirnya mulai melihat fenomena baru di tubuh organisasi kampus semakin dekat dengan birokrasi, semakin pelan suaranya.

Tentu kedekatan dengan kampus bukan sebuah kesalahan. Organisasi mahasiswa memang tidak harus selalu bermusuhan dengan birokrasi. Namun ketika hubungan itu terlalu harmonis hingga kritik terdengar seperti bisikan, mahasiswa wajar mulai curiga.

Apakah independensi organisasi masih benar-benar utuh?

Atau jangan-jangan keberanian sudah ditukar dengan kenyamanan?

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Mahasiswa tidak hanya mendengar apa yang diucapkan organisasi, tetapi juga membaca apa yang sengaja tidak berani disuarakan. Dan sering kali, diam jauh lebih nyaring daripada pidato panjang penuh formalitas.

Yang paling lucu sebenarnya bukan organisasi yang pasif. Yang paling lucu adalah usaha keras untuk terlihat aktif. Dokumentasi selalu ada. Pamflet selalu ramai. Kegiatan selalu diposting. Caption selalu dipenuhi kata “bergerak” dan “mengabdi.” Tetapi ketika mahasiswa benar-benar membutuhkan suara yang mewakili mereka, organisasi justru menghilang seperti panitia acara setelah kegiatan selesai.

BEM hari ini tampak sibuk menjadi dekorasi birokrasi dipasang ketika dibutuhkan, dirapikan ketika ada acara, lalu kembali diam ketika persoalan mahasiswa muncul.

Padahal dulu, visi dan misi yang disebarluaskan ke berbagai grup WhatsApp terdengar begitu meyakinkan. Janji tentang perjuangan, pengawalan aspirasi, dan keberpihakan kepada mahasiswa disampaikan dengan penuh semangat. Namun setelah setengah tahun kepengurusan berjalan, mahasiswa masih kesulitan melihat realisasi nyata dari janji-janji tersebut. Tidak ada terobosan besar, tidak ada pengawalan isu yang serius, bahkan kontribusi organisasi terasa semakin kabur.

Padahal gerakan mahasiswa tidak pernah lahir dari kenyamanan. Gerakan mahasiswa tumbuh dari keberanian mempertanyakan keadaan, keberanian berbeda sikap dengan penguasa, dan keberanian menyuarakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh mereka yang terlalu nyaman dengan kekuasaan.

Namun hari ini, keberanian itu terasa semakin langka. BEM lebih takut dianggap terlalu keras daripada takut kehilangan kepercayaan mahasiswa. Presma lebih sibuk menjaga relasi daripada menjaga aspirasi. Organisasi lebih sibuk terlihat aktif daripada benar-benar berdampak.

Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi mahasiswa hanya akan menjadi simbol formalitas kampus: ramai di dokumentasi, aktif di media sosial, tetapi minim keberanian ketika mahasiswa benar-benar membutuhkan pembelaan.

Dan mungkin saat itu, mahasiswa tidak lagi melihat BEM sebagai rumah perjuangan. Mereka hanya akan melihatnya sebagai pelengkap struktur kampus semacam pajangan demokrasi agar universitas terlihat hidup, padahal suara mahasiswanya perlahan dibungkam oleh kenyamanan organisasinya sendiri.

Karena pada akhirnya, organisasi mahasiswa yang kehilangan keberanian hanyalah jabatan dengan nama besar, dan nyali yang semakin mengecil.

Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Ilustrasi: Auliyatun Ni'mah

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.