Diskusi Video “Pesta Babi” BEM Hukum UIJ Soroti Ketimpangan Papua hingga Kritik Negara
POTRET: Peserta saat sesi diskusi usai pemutaran film pesta babi di lingkungan kampus 2 UIJ, Senin (12/05). Fotografer: Tria Amalia Agustin
UIJ,www.lpmmitra.id- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Islam Jember (UIJ) menggelar diskusi pemutaran video berjudul “Pesta Babi” yang menyoroti isu Papua. Kegiatan ini menjadi ruang kritik mahasiswa terhadap ketimpangan sosial, dugaan penindasan, dan pembatasan informasi di wilayah tersebut.
Ketua Umum BEM Fakultas Hukum, Ainul Yaqin, menyebut kegiatan ini bertujuan mengkaji alasan di balik pelarangan dan kontroversi video tersebut. Ia menilai mahasiswa perlu bersikap kritis terhadap isu-isu yang dianggap sensitif di ruang publik.
“Mahasiswa perlu menganalisis mengapa film ini di larang dan dianggap kontroversial. Apakah memang bermasalah atau justru sengaja dikontroversialkan,” ujar nya saat diwawancarai usai acara Selasa malem (12/02).
Mahasiswa semester 6 itu menjelaskan bahwa pemilihan video tersebut di dorong oleh meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi Papua. Dirinya menilai mahasiswa harus responsif terhadap isu-isu keadilan yang terjadi di wilayah tersebut.
“Ini sedang menjadi perhatian publik dan kita harus responsif terhadap isu keadilan, khususnya di Papua, serta menjadikan diskusi ini sebagai ruang untuk membuka perspektif baru bagi mahasiswa,” ucapnya.
Sementara itu, pemantik diskusi sekaligus Direktur Eksekutif PAR Alternatif Lembaga Riset Hukum dan Politik Andi Saputra menilai bahwa negara masih menggunakan pendekatan yang belum sepenuhnya terbuka dalam menangani persoalan Papua. Narasumber tersebut juga menyoroti dugaan kerusakan lingkungan serta minimnya ruang dialog yang dinilai semakin memperkeruh situasi di wilayah tersebut.
“Penyebutan seperti ‘KKB’ itu merupakan framing yang menutup kemungkinan dialog. Seolah-olah Papua hanya dipandang sebagai persoalan pemberontakan,” bebernya.
Mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jember menegaskan bahwa banyak realitas di Papua yang tidak terungkap secara luas di media arus utama. Dirinya berharap diskusi ini mampu membuka kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu kemanusiaan dan keadilan.
“Banyak kebenaran yang tidak terungkap. Film ini membuka realitas yang selama ini tidak terlihat,” pungkasnya.
Pewarta : Vina Amalia Agustin
Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Post a Comment