Sistem UIJ Diretas, Kabag IT : Kampus Belum Memiliki Sistem Monitoring
Potret: Kepala Bagian Teknologi Informasi (Kabag IT) UIJ, Benni Efendi, saat di wawancarai di ruang kerjanya, Senin (07/09). Fotografer: Abdul Waffaril Aziz
UIJ, www.lpmmita.id - Universitas Islam Jember (UIJ) belum memiliki sistem monitoring untuk mendeteksi peretasan sehingga sering mengalami serang siber. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bagian Teknologi Informasi (Kabag IT) Benni Efendi.
Kampus milik Yayasan Pendidikan Nahdatul Ulama (YPNU) tersebut kata dia, pihak kampus belum memiliki recovery dan backup yang cukup untuk menjaga dari serangan siber.
“UIJ masih belum punya sistem monitoring jadi serangan tersebut pasti mendadak tapi yang paling penting backup datanya,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (07/09).
Menurutnya dengan adanya perkembangan teknologi saat ini yang sangat cepat maka kampus harus melakukan update terhadap sistem. Selama ini kampus sering mengalami keterlambatan terhadap persoalan tersbut.
“Saat ini teknologi Berkembang cepat dan pesat maka kampus harus melakukan update dan juga upgrade, " ucapannya.
Lanjut dia menuturkan Perguruan tinggi milik YPNU itu masih sering mengalami serangan dari luar seperti judi online (Judol). Namun untuk saat ini serangan yang dialami adalah murni kelalai dari pihak kampus dalam proses penyuntingan sistem.
“Serangan yang paling banyak yaitu judol tapi gangguan saat ini memang dari sistem edit,” tuturnya.
Ia menjelaskan peretasan yang sering terjadi ada pada halaman, pengalihan halaman dan sistem yang dihancurkan. Namun belum berdampak vital pada data sistem.
"Yang sering terjadi peretasan biasanya pada halaman, pengalihan halaman atau sistem yang dihancurkan, namun data masih bisa di backup," jelasnya.
Sehingga untuk mengatasi persoalan tersebut kampus Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) itu, ungkap dia harus memiliki tenaga profesional untuk menjaga server. Supaya serangan siber dari luar bisa di antisipasi.
“Secara profesional harus ada yang paham mengenai keamanan, walaupun kampus sudah ada untuk menghalangi serangan itu,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa beni itu mengeluhkan serangan yang cukup rumit untuk persoalan yang dihadapi saat ini langsung diserang melalui siber. Karena gangguannya beda dengan tahun sebelumnya yang bisa diatasi.
“Gangguan tersebut dilakukan oleh serangan siber tapi serangan kali ini berbeda dari tahun sebelumnya karena serangan sebelumnya masih bisa diatasi,” keluhannya.
Dosen tersebut menyayangkan, sehingga kelalaian tersebut akan dijadikan pelajaran. Dan Kedepannya harus dibenahi sehingga tidak terjadi kelalaian.
“Selalu ada sesuatu yang harus dipelajari dan sesuatu yang harus dihadapi kedepannya,” pungkasnya.
Pewarta: Abdul Waffaril Aziz
Editor: Muzakky Maulana Hidayat

Post a Comment