Ads

UIJ Kelola Miliaran Rupiah, Sudah Sejauh Mana Mahasiswa Merasakan Dampaknya?

 

Oleh: Muzakky Maulana Hidayat

Universitas Islam Jember (UIJ) bukan lagi kampus dengan skala kecil. Berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti) pada semester ganjil 2026, UIJ memiliki 3.637 mahasiswa aktif. Dari jumlah tersebut, 1.139 mahasiswa merupakan penerima program KIP-Kuliah, sedangkan 2.498 mahasiswa lainnya membiayai kuliahnya melalui UKT secara mandiri maupun lewat berbagai skema beasiswa non-KIP.

Jika dihitung berdasarkan rata-rata UKT mahasiswa reguler sekitar Rp2,8 juta dan rata-rata UKT penerima KIP-Kuliah sekitar Rp3,8 juta per semester, maka dana pendidikan yang dikelola UIJ diperkirakan mencapai lebih dari Rp11,3 miliar setiap semester. Angka ini tentu bukan jumlah yang kecil. Bahkan, jika dikalkulasikan dalam satu tahun akademik, dana yang berputar mencapai puluhan miliar rupiah.

Lalu, ke mana saja dana tersebut dialokasikan?

Berdasarkan data yang penulis himpun, UIJ memiliki sekitar 222 dosen aktif dan 120 tenaga kependidikan berdasarkan PD-Dikti. Dengan asumsi rata-rata gaji dosen dan tendik sebesar Rp1,5 juta per bulan, kebutuhan pengeluaran rutin diperkirakan berada pada kisaran 600 jt per bulan atau sebesar Rp3,6 miliar dalam satu semester.

Tentu saja, perhitungan ini masih bersifat estimasi. Belum seluruh komponen pendapatan maupun pengeluaran kampus dimasukkan. Ada berbagai sumber pemasukan lain seperti hibah, bantuan pemerintah, kerja sama dengan berbagai lembaga, hingga pendapatan dari unit usaha yang tidak seluruhnya diketahui publik. Di sisi pengeluaran pun masih ada banyak pos lain yang mungkin menyerap anggaran.

Namun, justru di sinilah letak persoalannya.

Ketika sebuah perguruan tinggi mengelola dana pendidikan dalam jumlah miliaran rupiah setiap semester, publik memiliki hak untuk bertanya: sejauh mana dana tersebut benar-benar dikembalikan kepada mahasiswa dalam bentuk peningkatan kualitas pendidikan?

Pertanyaan ini bukan semata-mata soal laporan keuangan. Yang lebih penting adalah dampaknya. Apakah mahasiswa sudah menikmati ruang kuliah yang lebih nyaman? Laboratorium yang semakin lengkap? Akses internet yang memadai? Pelayanan administrasi yang lebih cepat? Pengembangan kompetensi dosen? Atau peningkatan berbagai fasilitas akademik dan non-akademik yang benar-benar dirasakan setiap hari?

Sebab, ukuran kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah mahasiswa atau besarnya dana yang dikelola. Kemajuan juga tercermin dari kualitas layanan, kenyamanan proses belajar, serta kepercayaan yang tumbuh karena mahasiswa merasakan bahwa setiap rupiah yang mereka bayarkan benar-benar kembali dalam bentuk pendidikan yang lebih baik.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menghakimi ataupun menuduh pengelolaan keuangan UIJ. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk membangun budaya transparansi dan akuntabilitas. Kampus adalah ruang intelektual yang seharusnya terbuka terhadap kritik dan diskusi berbasis data. Semakin besar dana yang dikelola, semakin besar pula harapan dan tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak pada peningkatan mutu pendidikan.

Karena pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya membayar untuk memperoleh selembar ijazah. Mereka berinvestasi pada kualitas pendidikan yang seharusnya terus tumbuh seiring besarnya sumber daya yang dimiliki kampus.

Penulis: Muzakky Maulana Hidayat
Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.