Ads

DPM Pengecut, BEM U Ugal-ugalan: Kebangkrutan Moral Pengawas Kampus!

 

Oleh: Muzakky Maulana Hidayat

Universitas Islam Jember hari ini tak ubahnya panggung sandiwara yang memuakkan akibat runtuhnya moralitas kepemimpinan mahasiswa. Lembaga perwakilan ini terbukti gagal total dalam mengawal isu-isu krusial, misalnya skandal aset kampus yang digadaikan, dugaan korupsi, bobroknya transparansi keuangan, nepotisme, manipulasi data LLDikti, akreditasi mandek, fasilitas kampus yang tidak layak hingga pelecehan dari oknum sivitas akademika. Jangankan menyelesaikan persoalan sebesar itu, menindak pelanggaran BEM U, DPM sudah benar-benar tidak becus.


DPM terbukti pengecut! Hanya karena takut ribet, mereka sudi dipermainkan secara ugal-ugalan dan membiarkan ketegasan aturan hanya lewat SP berakhir nol besar. Ketakutan serta ketiadaan nyali dari DPM inilah yang memberi karpet merah bagi BEM U untuk bertindak makin semena-mena dan lepas kendali tanpa ada implementasi nyata bagi mahasiswa.


Penulis bahkan sempat berspekulasi: apa Jangan-jangan DPM ini sudah kena bungkam, atau malah ikut kebagian cipratan dari hasil kerja sama dengan BEM U? Mereka seperti sedang menjalankan skenario bergenre komedi-dramatis yang penuh intrik, berpura-pura tidak tahu dan malas ribet, padahal diam-diam menikmati hasilnya di balik layar. 


Seharusnya, DPM bertindak sebagai pengawas independen dan penegak hukum yang tegas, yang wajib mengawal aspirasi mahasiswa, mengontrol kebijakan tanpa kompromi, serta berani menjatuhkan sanksi demi menjaga akuntabilitas dan integritas kelembagaan.


Sungguh eman rasanya menyaksikan anggaran kampus dipermainkan oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Sebagai mahasiswa yang juga aktif menulis, saya kerap termenung: di dalam anggaran yang mereka kelola itu, ada hak dan keringat saya yang terselip meski mungkin hanya sebesar dua ribu rupiah yang kini terbuang sia-sia. 


Kali ini kami hanya menunggu tindak lanjut dan iktikad baik dari kalian, semoga masih ada tersisa sedikit nurani untuk bertindak. Namun ingat, jika iktikad baik itu tak kunjung hadir dan pembiaran ini terus berlanjut, jangan salahkan jika gelombang berikutnya akan menggulung habis sisa-sisa legitimasi yang kalian banggakan!


Penulis: Muzakky Maulana Hidayat

Editor: Nelly Dwi Pratiwi




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.