Di Balik Setiap Berita Ada Perjalanan Seorang Reporter
Potret : Kebersamaan Agus Ainul Yaqin, bersama Tim SCTV di Tengah Alam, Semangat Menjalankan Tugas Peliputan
Sebagian orang, televisi hanyalah sarana untuk memperoleh informasi. Bagi Agus Ainul Yaqin, layar televisi adalah ruang untuk menyampaikan fakta dan memperjuangkan kebenaran. Keyakinan itulah yang membawanya menjadi Video Journalist Liputan 6 SCTV sebelum akhirnya memilih mengabdikan diri sebagai dosen.
“Jurnalistik itu penyampaian kebenaran, walau bukan kebenaran absolut. Seorang jurnalis harus berpihak pada kebenaran,” ucap Agus Ainul Yaqin saat diwawancarai (18/07/25).
Ketertarikannya kepada dunia media tumbuh sejak remaja, saat masih duduk di bangku SMA. Hingga menjadi mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, ia aktif menjadi pembawa acara di berbagai kegiatan sekolah, kampus, dan masyarakat. Pengalaman ini semakin ia sukai ketika menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan dipercaya menjadi penyiar radio. Dari situlah, ia menyadari bahwa dunia penyiaran menjadi tempat yang ingin ia tekuni.
Setelah menyelesaikan pendidikan pada tahun 1993 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, seharusnya ia menjadi guru. Namun, karena tidak tertarik pada bidang keguruan, ia memilih merantau ke Surabaya. Ia membuka usaha wartel sekaligus bekerja sebagai penyiar radio di Pasuruan. Langkah ini menjadi titik awal perjalanannya menuju profesi jurnalis.
Semangatnya semakin kuat ketika Indonesia memasuki era Reformasi pada 1998. Saat itu, televisi menjadi media yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Hampir setiap hari ia menonton siaran berita dari SCTV dan RCTI. Para reporternya yang menyampaikan berbagai peristiwa penting membuatnya semakin yakin untuk mengejar cita-cita sebagai jurnalis televisi.
Menurutnya, keinginan harus diwujudkan dengan mengikuti pendidikan jurnalistik di Malang Post dan Centris Broadcasting School. Bekal yang dimilikinya mengantarkannya lolos seleksi sebagai reporter Liputan 6 SCTV pada 1999. Dalam proses penerimaan, kemampuan menulis berita dan mengambil gambar menjadi penilaian utama.
“Ini kesan yang tidak terlupakan saat dimarahi oleh koordinator liputan yang namanya Mas Totok, sekarang Wapimred TVOne. Maklum, saat itu tulisan saya belum standar TV, masih ngaco. Saya dimarahi, tapi bukan karena benci. Justru beliau mendidik saya menjadi jurnalis tangguh dan profesional. Karena didikan beliau, saya sering ditugasi ke berbagai daerah,” ucapnya.
Namun, ia tidak pernah menganggap teguran itu sebagai bentuk kebencian. Justru dari bimbingannya, ia belajar banyak tentang cara menulis naskah televisi, menyusun alur berita, melakukan reportase, membangun hubungan dengan narasumber, serta mengasah kemampuan videografinya. Kemampuan itu terus diasah bersama kameramen senior SCTV, Joko Sulistyo Budi.
“Pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika saya sempat diamankan tentara karena memasuki Ring 1 Lanud Iswahyudi saat meliput pemberangkatan pasukan menuju Aceh. Saya juga terlibat dalam berbagai liputan penting, termasuk kasus terorisme yang turut mengantarkan Liputan 6 meraih Panasonic Award,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa, dari banyaknya pengalaman tersebut, keberanian seorang jurnalis harus diimbangi dengan kecerdasan membaca situasi. Seorang reporter tidak perlu bersikap nekat, tetapi harus mampu menentukan langkah agar dapat memperoleh informasi penting tanpa mengabaikan keselamatan.
Pengalamannya di lapangan juga membentuk kebiasaan hidupnya. Dengan dikejar deadline, kecepatan bekerja, dan ketelitian, seorang jurnalis dituntut berpikir kreatif untuk menemukan cara mendapatkan informasi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Sekarang, setelah meninggalkan dunia liputan, ia memilih menjadi dosen. Keputusan itu didorong oleh keinginannya untuk berbagi pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai jurnalistik kepada generasi muda.
Menurutnya, perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat setiap orang dapat menyebarkan informasi dengan sangat mudah. Hal ini memunculkan tantangan yang semakin besar, yaitu penyebaran hoaks yang sering kali sulit dibedakan dari fakta.
“Berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, memiliki banyak keterampilan, dan bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Karena seorang jurnalis harus berpihak pada kebenaran,” pungkasnya.
Penulis : Tevi Sukma Lestari dan Halimatus Sakdiyah

Post a Comment