Mengubah Keraguan Menjadi Prestasi: Kisah Akhyar Menembus Batas Lewat Jalur Artikel Ilmiah
Setiap pagi, M. Akhyar Aji Saputra memiliki rutinitas yang tak banyak berubah. Di teras rumahnya yang menghadap ke selatan, ditemani secangkir kopi hangat, ia selalu menemukan ketenangan sebelum memulai hari. Teras itu menjadi tempat favoritnya karena terlindung dari sengatan terik matahari, sementara angin pagi berembus bebas tanpa sekat, membawa aroma tanah basah langsung dari hamparan sawah yang mengepung bagian depan dan belakang rumahnya. Ide-ide akademik yang mendobrak batas justru lahir.
Semua bermula pada Desember 2024. Bermodal info lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) di Universitas Nurul Jadid (UNJ) Paiton dari dosennya, Pak Prima, Akhyar bersama empat temannya nekat mencoba. Tantangannya tidak main-main. Mereka hanya memiliki waktu tepat dua minggu. Dua minggu untuk belajar dari nol mutlak, memahami apa itu artikel ilmiah, bagaimana metodologi yang benar, hingga bagaimana menyusun draf yang layak sebelum tenggat waktu penyerahan naskah ditutup.
Hasilnya mengejutkan. Ia berhasil menyabet peringkat ke-6 nasional melalui artikel bertema etika komunikasi digital. Yang membuat bangga, dari sepuluh besar terbaik yang didominasi mahasiswa S2 dari berbagai PTN/PTS, ia adalah salah satu dari sedikit mahasiswa S1 yang mampu berdiri sejajar di podium.
Keberhasilan itu membuka pintu lebar. Artikelnya diterbitkan dan berhasil menembus kolaborasi internasional dengan penulis asal Kosovo.
"Kalau dulu cuma bisa membaca karya orang luar negeri, sekarang bisa kolaborasi dengan mereka," kenangnya bangga.
Langkah Akhyar tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami penolakan dari beberapa rumah jurnal. Namun, alih-alih menyerah, penolakan justru membuatnya makin tertantang untuk belajar dan terus mengirimkan naskah.
"Dari beberapa kali ditolak, aku malah makin suka nulis dan kirim sana-sini, tentunya dengan mempelajari kekurangan-kekurangan sebelumnya," jelasnya.
Saat teman-temannya meragukan ia bisa lulus lewat jalur artikel, Akhyar memilih membuktikannya dengan tindakan. Kerja kerasnya terbayar. Di ajang NEAC II (2025), ia meraih Nominasi Penulis Terbaik lewat artikel tentang kurikulum Deep Learning yang sukses terbit di jurnal Sinta 3. Setahun kemudian, pada NEAC III (2026), ia menyabet Juara 2 nasional lewat tulisan kritis “Maraton Peradaban Yang Tersendat: Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Gelar”.
Semua pencapaian ini tidak lepas dari dukungan penuh orang tuanya. "Orang tua yang selalu mendukung apa pun keputusan anaknya," ungkap Akhyar. Restu itulah yang membuatnya kini berani bermimpi untuk menembus jurnal internasional bereputasi (Scopus) secara gratis sembari mempersiapkan diri ke jenjang S2.
Sebagai angkatan yang sempat harus bernegosiasi alot demi terbitnya kebijakan kelulusan jalur artikel, Akhyar bersyukur kini Petunjuk Teknis (Juknis) di kampusnya sudah resmi dibuat. Ia pun menitipkan pesan sederhana namun penting untuk adik tingkatnya yang ingin menempuh jalur serupa,
"Banyak-banyak baca berita, jadikan judul, langsung konsultasikan dengan Kaprodi masing-masing."
Pagi di teras rumah Akhyar mungkin akan tetap sama, sejuk, hijau, dan tenang. Namun, dari sudut damai yang menghadap ke selatan itulah, seorang mahasiswa S1 telah membuktikan bahwa keterbatasan waktu, keraguan lingkungan, dan status akademis bukanlah tembok penghalang untuk menembus batas-batas literasi global.
Penulis : Nelly Dwi Pratiwi dan Nella Tri Prasasti
Editor: Muzakky Maulana Hidayat

Post a Comment