Penyakit Kronis Sudah Komplikasi, Segera Perbaiki Atau ...!
Polemik kampus sepertinya mulai masuk kondisi komplikasi. Siakad diretas, probem kepegawaian, pengelolaan keuangan, dan mungkin masih banyak hal lainnya. Tapi penulis sementara fokus terhadap sistem kerja di kampus yang katanya milik NU ini.
Seperti biasa, jam kerja di Universitas Islam Jember beroperasional sejak pukul 08.00 sampai dengan 16.00. Sistem absensi digital diterapkan, mungkin tujuannya agar karyawan lebih bisa disiplin dalam melayani mahasiswa. Wi-Fi internal dijadikan pembatas agar presensi tidak bisa dilakukan dari luar kampus. Bahkan, keterlambatan memiliki konsekuensi terhadap Tunjangan Kinerja (Tukin), katanya.
Aturan sudah terbangun seakan ketat dan tegas. Bahkan sulit untuk menemukan celah dalam melakukan pelanggaran. Penulis juga yakin kalau karyawan memahami hal itu, tentunya sebagian ada yang senang sebagian lainnya tidak. Ini hanya tentang pro dan kontra saja.
Sistem terbangun yang sepertinya sudah mapan itu, masih banyak dilanggar. Beberapa waktu yang lalu beredar berita bahwa pada jam kerja, kampus masih sepi pekerja. Mahasiswa menumpuk di beberapa sektor pelayanan, sedang pelayannya masih leyeh-leyeh di rumah masing-masing. Mirisnya, pelanggaran ini tidak hanya dilakukan oleh pegawai, akan tetapi juga dilakukan oleh petinggi kampus. Anehkan, padahal mereka yang merumuskan, mereka juga yang merusaknya.
Baiklah, penulis ingin mengajak pembaca untuk menganalisa kecil-kecilan tentang venomena indah tersebut. Pertama, mungkin ini memang sudah menjadi karakter setiap pekerja yang ada di UIJ. Kedua, ada sistem yang salah dalam pengaplikasiannya. Ketiga, kesejahteraan pegawai belum tercukupi, sehingga etos kerja mereka menurun. Keempat, ini yang paling krusial, sistem itu hanya diberlakukan terhadap pegawai esselon bawah saja. Pimpinannya bebas dari aturan. Atau mungkin dalam pemberlakuan sistem tidak adil, ada beberapa orang yang sengaja diberi karpet merah, sehingga memunculkan kecemburuan sosial.
Beberapa penyakit kronis di atas perlu segera ditindak, sebelum mahasiswa turun ke jalan untuk memperbaiki sendiri. Pemangku kebijakan kampus harus paham, bahwa mahasiswa sudah berinfestasi besar terhadap kampus ini. Mahasiswa hanya menginginkan kenormalan dalam mengelola kampus. Pelayanan yang baik dan prima, fasilitas yang menunjang, proses perkuliahan yang bermutu, pengelolaan uang yang baik dan benar, serta kondisi kampus yang nyaman untuk dijadikan rumah kedua.
Mungkin masih banyak yang perlu sama-sama kita koreksi dan benahi. Satu harapan kepada para pimpinan kampus, berbenah segera mungkin. Jangan sampai Helikopter Turun ke Halaman.
Penulis: Vina Amelia Agustin
Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Post a Comment