Mahasiswa Gen Z UIJ: Ingin Diakui, Tapi Hanya Berhenti pada Wacana
Oleh: Muzakky Maulana Hidayat
www.lpmitra.id - Mahasiswa Gen Z kerap di pandang sebagai generasi yang vokal, kritis, dan dekat dengan teknologi. Namun di balik citra progresif tersebut, realitas di lapangan justru memperlihatkan paradoks yang cukup mencolok.
Tumbuh di era digital, Gen Z memiliki akses luas terhadap informasi. Mereka paham isu-isu besar mulai dari ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga kesehatan mental. Sayangnya, pemahaman itu sering kali hanya berhenti sebagai konsumsi, bukan sebagai dorongan aksi.
Di lingkungan Universitas Islam Jember (UIJ) fenomena ini tampak semakin jelas. Berdasarkan penelusuran dari penulis, sebagian besar mahasiswa sebenarnya sadar akan berbagai persoalan kampus. Mereka mampu mengidentifikasi masalah dengan cukup tajam. Namun ironisnya, keberanian itu seolah hanya hidup di ruang-ruang informal di warung kopi, grup WhatsApp, atau bisik-bisik selepas kelas.
Di sana, kritik mengalir deras. Kampus di bedah dari soal kebijakan, hingga di telanjangi sampai akar akarnya bahkan pimpinan tak luput dari bahan evaluasi. Namun begitu memasuki ruang formal, suara-suara lantang itu mendadak hilang. Seolah ada tombol “mute” kolektif yang otomatis aktif ketika forum resmi dimulai.
Fenomena ini melahirkan satu ironi mahasiswa yang ingin di akui sebagai agen perubahan, tetapi enggan mengambil risiko untuk benar-benar berubah. Kritik menjadi semacam hobi diskusi, bukan alat perjuangan.
Masalahnya bukan pada kurangnya kesadaran, melainkan pada keberanian yang setengah hati. Mahasiswa tahu apa yang salah, tetapi memilih aman untuk tidak mengatakannya di tempat yang seharusnya.
Krisis ini juga merambah pada fungsi representasi mahasiswa. Mereka yang berada di posisi strategis seharusnya menjadi jembatan aspirasi. Namun dalam praktiknya, peran tersebut kerap tereduksi menjadi sekadar formalitas administratif. Jabatan lebih terasa sebagai zona nyaman dari pada ruang perjuangan.
Ketakutan akan konsekuensi sosial, tekanan lingkungan, hingga kekhawatiran kehilangan posisi, membuat sebagian mahasiswa lebih memilih menjadi “pengamat aktif” daripada “penggerak nyata”. Aktif berbicara, tetapi hanya di tempat yang tidak mengubah apa-apa.
Tak heran jika banyak aktivitas organisasi mahasiswa akhirnya terjebak dalam rutinitas seremonial. Rapat demi rapat di gelar, program kerja di susun rapi, tetapi minim dampak nyata. Semua terlihat berjalan, namun nyaris tidak bergerak.
Jika kondisi ini terus di biarkan, organisasi mahasiswa berisiko kehilangan maknanya. Bukan lagi sebagai agen perubahan, melainkan sekadar pelengkap struktural kampus.
Padahal, kritik yang terbuka dan konstruktif adalah fondasi penting bagi kemajuan institusi. Tanpa itu, kampus hanya akan berjalan di tempat terlihat stabil, tetapi sebenarnya stagnan.
Sudah saatnya mahasiswa berhenti merasa cukup dengan menjadi “kritis di belakang layar”. Keberanian harus di pindahkan dari ruang informal ke ruang publik. Dari sekadar obrolan, menjadi tindakan.
Karena pada akhirnya, yang di pertaruhkan bukan hanya citra kampus, tetapi juga kualitas mahasiswanya. Ketika mahasiswa lebih nyaman berbisik daripada bersuara, maka yang hilang bukan hanya kritik melainkan jati diri mereka sebagai agen perubahan.
Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Post a Comment