Strategi Promosi UIJ 2027 Dinilai Minim Trobosan dan Sangat Standar
Potret: Kepala Bagian(Kabag) Humas UIJ, Abu Yasid, Saat di wawancarai di ruanganya. Rabu (14/10). Fotografer: Farel Waffaril Aziz
UIJ, www.lpmmitra.id – Strategi Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Islam Jember (UIJ) dalam menyambut Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun 2027 dinilai belum menawarkan terobosan konkret. Di tengah penurunan jumlah pendaftar, langkah yang disiapkan kampus di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama (YPNU) ini masih berkutat pada promosi generik.
Kepala Bagian (Kabag) Humas UIJ, Abu Yasid, menyatakan bahwa pihaknya berniat menggeser metode lama seperti spanduk ke arah promosi digital.
“Strategi Humas mempromosikan kampus UIJ tahun 2027 harus lebih modern, kreatif, terukur, dan mampu membangun kepercayaan masyarakat. Humas tidak cukup hanya menyebarkan brosur dan spanduk, tetapi harus mampu membuat masyarakat mengenal UIJ, percaya kepada UIJ, tertarik kuliah di UIJ, dan akhirnya mendaftar,” ujar Yazid saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/10).
Namun, eksekusi strategi "modern" yang dimaksud nyatanya sebatas rutin mengunggah lima konten per minggu di kanal media sosial dan situs web resmi kampus. Humas dan PMB UIJ berencana memanfaatkan platform seperti TikTok, Instagram Reels, Facebook, hingga YouTube Shorts.
Di sisi lain, pihak Humas mengakui bahwa kelemahan utama mereka selama ini terletak pada minimnya dukungan pendanaan media. Penurunan minat calon mahasiswa baru pun hanya dipantau tanpa diimbangi formulasi pemasar digital yang tajam.
“Maba sebenarnya banyak mengerti dari media sosial Humas, akan tetapi kekurangannya adalah Humas lemah di sponsor media. Humas selama ini mengajukan anggaran sesuai kebutuhan, baik operasional, media sosial, maupun alat-alat ke pimpinan,” tambah Yasid.
Ketergantungan pada pengajuan anggaran tanpa adanya terobosan strategi pemasaran mendasar menunjukkan belum adanya solusi nyata dari internal UIJ. Tanpa evaluasi terhadap kualitas dan substansi konten, wacana membangun kepercayaan publik berisiko sekadar menjadi jualan slogan tahunan.
Pewarta: Farel Waffaril Aziz
Editor: Nelly Dwi Pratiwi

Post a Comment