Ads

Pemerintah Tidak Dengar

 

Asri: Petani membersihkah gulma pematang sawahnya di Bagon Puger, Senin (01/03)/ Fotografer: Istimewa

Mitra_Raut wajah yang lesu dan lelah yang terpancar dari wajah beberapa lelaki paruh baya itu. Mereka menyapaku, sembari mengisyaratkan bahwa mereka numpang istirahat. Kuanggukan kepala sebagai balasan isyarat mempersilahkan.

Kamis, 11 Februari 2021, hari ini lumayan cerah. Sinar matahari di siang bolong tak bisa dibendung menyengat kulit. Sehingga nampak sekali bagaimana lelahnya para lelaki ini.

Gumelar, Balung, Kabupaten Jember pasukan lelaki ini membawa peralatan dan alat lengkap. Mereka bukan abdi negara, bukan juga punggawa negeri. Tapi mereka yang mampu menghidupi seluruh sendi kehidupan negara ini. Dari hasil keringat mereka, pasokan beras tak pernah terputus.

Sugiman, nama salah seorang dari mereka. Mereka hanya berlima. Nampak pantulan sinar matahari dari kulit-kulit pria tangguh ini.

"Nasib petani hancur sekarang le," kata Pak Sugiman.

Dia bercerita bagaimana sulitnya mendapat pupuk bersubsidi saat ini. Bahkan jika ada, harganya bukan lagi menjadi harga subsidi, kata dia.

Karena Pupuk subsidi yang kian menyulit untuk ditemukan. Juga hama padi yang menghabiskan beribu ribu tanaman pada lahan.

Belum lagi, sela salah satu dari kelompok petani ini, hama padi yang semakin ganas menyerang. Sekali hama ini menyerang, ribuan tanaman langsung rumbang.

"Kita telah berhasil mengehentikan lebih dari setengah hama padi," tutur Sugiman.

Sebagai pemegang komando, Sugiman memerintahkan para petani untuk serentak melakukan penyemprotan racun hama. Jika hal ini dilakukan, katanya, maka masalah hama ini bisa segera teratasi. Tapi jika dilakukan secara individual, maka kemungkinan kecil hama bisa diberantas.

“Tapi,” kata Sugiman dengan wajah lesu. Dia kembali teringat akan sulitnya mendapat pupuk. Padahal, kata dia, dalam waktu dekat para petani harus melakukan pemupukan.

“Apa pemerintah tidak mendengar keluhan kami?” keluhnya sambil menatap langit.

            Wajah penuh keringat itu berharap pemerintah menurunkan harga pupuk non subsidi. Walaupun dia sendiri tau bahwa harapannya mustahil dikabulkan.

Pewarta: Shehona Abdul Gufron

Editor: Sugeng Hadi Wijaya

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.